BNPB Laksanakan Operasi Modifikasi Cuaca untuk Tekan Risiko Bencana di Aceh Tengah
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 12 Sep 2026, 06.05

TAKENGON — Badan Nasional Penanggulangan Bencana akan melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kabupaten Aceh Tengah mulai pertengahan April 2026 guna mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi, menyusul peringatan dini cuaca ekstrem dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika untuk periode 11–15 April dan 16–20 April 2026.
Perwakilan BNPB Brigadir Jenderal Ismed mengatakan langkah tersebut merupakan tindak lanjut atas tingginya curah hujan yang sebelumnya memicu banjir, tanah longsor, hingga kerusakan infrastruktur di wilayah tersebut pada 8–10 April 2026. “Dengan adanya kejadian tersebut, kami dari BNPB atas perintah Kepala BNPB akan melaksanakan OMC atau Operasi Modifikasi Cuaca,” ujar Ismed, Senin (13/4/2026).
Ia menjelaskan, pelaksanaan OMC akan menggunakan pesawat jenis Caravan yang telah tiba di Lanud Sultan Iskandar Muda Air Force Base. Operasi penyemaian awan dijadwalkan dimulai pada malam hari di titik-titik yang telah dipetakan berdasarkan potensi pembentukan hujan. “Insya Allah mulai malam ini akan dilakukan penerbangan untuk penyemaian awan di titik-titik yang berpotensi menimbulkan hujan,” kata dia.
Ismed menambahkan, teknik modifikasi cuaca dilakukan untuk mengendalikan distribusi hujan agar tidak turun di kawasan rawan bencana. “Nanti ada titik-titik yang akan disemai oleh tim OMC di SIM, sehingga awan-awan yang berpotensi hujan tidak jatuh di wilayah Aceh Tengah,” ujarnya.
Secara historis, Operasi Modifikasi Cuaca telah beberapa kali digunakan pemerintah Indonesia dalam penanganan bencana, termasuk saat pengendalian banjir di wilayah Jabodetabek dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Metode ini dinilai efektif dalam mengurangi intensitas hujan di wilayah tertentu, meskipun keberhasilannya sangat bergantung pada kondisi atmosfer.
Dari sisi dampak, kebijakan ini diharapkan mampu meminimalisir risiko bencana lanjutan yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat, merusak infrastruktur, serta menghambat distribusi logistik di daerah terdampak. Pengendalian curah hujan juga penting untuk menjaga keselamatan warga di wilayah rawan longsor dan banjir, terutama di kawasan dengan topografi perbukitan seperti Aceh Tengah.
Namun demikian, pelaksanaan OMC juga memerlukan koordinasi lintas lembaga dan pemantauan intensif agar tidak menimbulkan dampak lanjutan di wilayah lain. Selain itu, efektivitas program ini akan sangat ditentukan oleh akurasi data cuaca serta kesiapan teknis di lapangan.
BNPB menyatakan akan terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan mengevaluasi pelaksanaan operasi secara berkala. Pemerintah juga membuka kemungkinan perpanjangan OMC apabila potensi cuaca ekstrem masih berlanjut, serta mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi di wilayah masing-masing.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Mensos Gus Ipul Tegaskan Sekolah Rakyat Jadi Kunci Strategis Putus Kemiskinan Menuju Indonesia Makmur
JAKARTA, 24 AGUSTUS 2026 — Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan bahwa program Sekolah Rakyat merupakan langkah strategis pemerintah untuk memutus mata rantai kemiskinan dan mewujudkan keadilan s

Pemerintah Siapkan Bantuan 1.000 Rumah dan Swasta Bangun 500 Hunian Baru di Flores
KUPANG, 24 AGUSTUS 2026 — Pemerintah pusat melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) menyiapkan program bantuan pembangunan dan perbaikan 1.000 unit rumah bagi korban gempa di Pulau Flores, Nus

Kementerian PU Salurkan 12 Ribu Liter Air Bersih bagi Pengungsi Gempa di Kabupaten Sikka
SIKKA, 24 AGUSTUS 2026 — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mendistribusikan pasokan air bersih bagi warga terdampak bencana gempa bumi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada Minggu (23/8/2026). Distribusi
