Indonesia Perkuat Posisi Strategis Pangan Global Lewat Ekspor Pupuk ke Australia
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 20 Jul 2026, 18.59

JAKARTA, Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia semakin dipercaya dalam menjaga stabilitas pangan kawasan setelah dimulainya ekspor pupuk ke Australia di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Menurut Amran, kerja sama sektor pangan antara Indonesia dan Australia kini berkembang menjadi kemitraan strategis yang semakin erat, khususnya dalam menjaga rantai pasok pupuk dan ketahanan pertanian kawasan Asia-Pasifik.
“Ini menunjukkan Indonesia semakin dipercaya dan diperhitungkan dalam menjaga stabilitas pangan kawasan,” kata Amran dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Amran mengungkapkan dirinya menerima telepon langsung dari Julie Collins yang menyampaikan apresiasi atas dukungan pasokan pupuk dari Indonesia kepada Australia.
Pemerintah Australia disebut menilai langkah Indonesia sangat penting di tengah gangguan rantai pasok global akibat dinamika geopolitik internasional yang memengaruhi sektor energi, pangan, dan bahan baku dunia.
“Menteri Pertanian Australia menyampaikan terima kasih karena Indonesia telah membantu menyuplai pupuk ke Australia di tengah tantangan geopolitik global,” ujar Amran.
Sebelumnya, apresiasi serupa juga telah disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Australia Anthony Albanese kepada Presiden RI Prabowo Subianto melalui komunikasi telepon.
Pemerintah menilai komunikasi langsung antar pemimpin kedua negara menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia kini memiliki posisi strategis dalam rantai pasok pangan global, khususnya di sektor pupuk.
Pada tahap awal, ekspor perdana pupuk urea dari Indonesia ke Australia mencapai 47.250 ton. Pengiriman tersebut merupakan bagian dari komitmen kerja sama Government-to-Government (G2G) Indonesia–Australia sebesar 250.000 ton dan ditargetkan meningkat menjadi 500.000 ton dengan nilai sekitar Rp7 triliun.
Ekspor perdana dilakukan melalui Dermaga BSL PT Pupuk Kalimantan Timur di Bontang, Kalimantan Timur.
Amran menegaskan ekspor dilakukan karena produksi pupuk nasional berada dalam kondisi surplus sehingga kebutuhan petani dalam negeri tetap aman dan terpenuhi.
Saat ini, produksi urea nasional ditargetkan mencapai 7,8 juta ton, sementara kebutuhan domestik sekitar 6,3 juta ton. Dengan demikian, Indonesia masih memiliki surplus sekitar 1,5 juta ton yang dapat dimanfaatkan untuk pasar ekspor dan diplomasi pangan internasional.
Menurut pemerintah, penguatan industri pupuk nasional menjadi fondasi penting dalam mendukung percepatan swasembada pangan nasional melalui ketersediaan pupuk yang cukup, distribusi lebih cepat, dan harga yang lebih terjangkau bagi petani.
Ekspor pupuk ke Australia juga dipandang sebagai bukti bahwa Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, tetapi mulai memainkan peran penting sebagai mitra strategis dalam menjaga ketahanan pangan global di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik dunia.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Bank Mandiri Klarifikasi Pemblokiran Rekening AMPB Tegaskan Kepatuhan Prosedur Hukum dan Layanan Nasabah
JAKARTA, 24 AGUSTUS 2026 — PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menyampaikan penjelasan resmi terkait langkah pemblokiran rekening milik koordinator aksi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok.

Indonesia-Jerman Percepat Investasi EBT dan Jaringan Listrik
JAKARTA, 19 AGUSTUS 2026 — Pemerintah Indonesia dan Jerman memperkuat kerja sama untuk mempercepat investasi energi baru dan terbarukan (EBT) serta modernisasi jaringan listrik. Langkah ini menjadi bagian dari

Alokasi Dana Desa Rp77 Triliun Ditargetkan Perkuat Pengembangan Kopdes
JAKARTA, 22 AGUSTUS 2026 — Pemerintah memproyeksikan alokasi Dana Desa mencapai Rp77 triliun pada tahun anggaran 2027 guna mempercepat transformasi ekonomi dan penguatan kapasitas usaha Koperasi Desa (Kopdes) M
