KDMP Didorong Jadi Agregator Pangan untuk Jaga Harga dan Perpendek Rantai Pasok
Budi Antoni
Editor: Budi Antoni
Diperbarui: 16 Agu 2026, 23.07

Kepala Center of Food, Energy and Sustainability Development INDEF Abra Talattov mengatakan KDMP idealnya tidak hanya berfungsi sebagai lembaga ekonomi di tingkat desa, tetapi juga menjadi agregator yang menghubungkan daerah surplus dengan wilayah yang mengalami kekurangan pasokan.
“Yang paling penting adalah bagaimana nanti KDMP ini bisa menjadi lembaga yang bisa menyeimbangkan antara daerah yang surplus dengan daerah yang kekurangan bahan pangan. Itu sangat penting untuk menjaga keseimbangan harga di level konsumen atau rakyat,” ujar Abra dalam Diskusi Publik INDEF yang digelar secara daring, Sabtu (15/8/2026).
Serap Surplus Produksi Petani dan Peternak
Menurut Abra, peningkatan produksi pangan perlu diimbangi dengan kemampuan menyerap hasil produksi agar tidak menyebabkan tekanan harga di tingkat petani maupun peternak.
Ia mencatat harga telur ayam turun sekitar 10,8 persen sejak awal tahun hingga Juli 2026. Tekanan harga juga terjadi pada komoditas daging ayam di tengah peningkatan produksi dan perlambatan penyerapan permintaan.
“Swasembada memang berarti produksi berlimpah. Tetapi ekses dari swasembada yang perlu segera dibenahi pemerintah adalah anjloknya harga pembelian di tingkat peternak. Jangan sampai kondisi ini menyebabkan demotivasi bagi peternak kita,” katanya.
Dalam kondisi tersebut, jaringan KDMP dapat berperan menyerap produksi petani dan peternak sekaligus menghubungkannya dengan pasar maupun kebutuhan berbagai program pemerintah.
“Kalau memang betul keberhasilannya produksi delapan komoditas tadi, termasuk telur dan daging ayam, sudah surplus, bagaimana surplusnya tadi bisa diserap. Salah satu instrumen yang bisa menyerap itu adalah koperasi desa atau KDMP yang selama ini digadang-gadang pemerintah menjadi agregator,” ujar Abra.
Hubungkan Daerah Surplus dan Defisit Pangan
Selain menyerap hasil produksi, KDMP dinilai dapat dimanfaatkan sebagai jaringan distribusi antardaerah. Komoditas dari wilayah dengan produksi berlebih dapat disalurkan menuju daerah yang mengalami kekurangan sehingga disparitas pasokan dan harga dapat ditekan.
Abra memberikan contoh produksi bawang di Jawa Barat yang mengalami surplus dapat dihubungkan dengan kebutuhan daerah lain seperti Kalimantan.
“Misalnya di Jawa Barat surplus produksi bawang, sementara di Kalimantan defisit bawang. Apakah dengan adanya KDMP ini bisa menyeimbangkan kondisi tersebut sehingga tidak ada dorongan harga pada komoditas tertentu? Poinnya di situ,” tuturnya.
Mekanisme tersebut membuat KDMP berpotensi menjalankan fungsi lebih luas dibandingkan sekadar menjadi tempat penjualan barang di tingkat desa.
Lokasi dan Jaringan Distribusi Jadi Kunci
Agar peran tersebut berjalan efektif, lokasi pembangunan dan operasional KDMP dinilai perlu mempertimbangkan kedekatan dengan masyarakat serta pusat kegiatan ekonomi lokal.
“Idealnya memang KDMP ini berlokasi di dekat komunitas, tidak jauh dari jangkauan. Karena kalau jauh dari jangkauan, justru akan menyulitkan masyarakat untuk mengaksesnya,” kata Abra.
Selain lokasi, kapasitas logistik dan jaringan distribusi juga diperlukan agar koperasi mampu menghubungkan produsen, konsumen, serta kebutuhan pangan antardaerah secara efisien.
Dengan rantai distribusi yang lebih pendek, biaya logistik berpotensi ditekan sekaligus memberikan ruang bagi produsen memperoleh pasar yang lebih pasti dan masyarakat mendapatkan pangan dengan harga yang lebih terjangkau.
KDMP Diharapkan Perkuat Stabilitas Pangan
Penguatan KDMP sebagai agregator menjadi relevan ketika pemerintah berupaya meningkatkan produksi sekaligus menjaga stabilitas harga pangan. Tantangannya tidak hanya memastikan ketersediaan pangan secara nasional, tetapi juga mengatasi ketimpangan pasokan pada tingkat daerah.
“Tugas pemerintah juga tidak boleh berpuas diri di level nasional. Harus dilihat bagaimana surplus di satu daerah bisa diserap dan disalurkan ke daerah lain yang membutuhkan, sehingga keseimbangan harga pangan bisa terjaga,” ujar Abra.
Di sisi lain, risiko produksi pada semester kedua 2026 juga perlu diantisipasi, termasuk kemungkinan kemarau panjang dan fenomena El Niño yang berpotensi memengaruhi produksi beras maupun komoditas hortikultura.
Dengan penguatan kapasitas, penempatan lokasi yang tepat, dan jaringan distribusi antardaerah, KDMP diharapkan dapat menjadi bagian dari ekosistem pangan nasional yang menghubungkan kepentingan produsen dan konsumen sekaligus membantu menjaga stabilitas pasokan serta harga pangan.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Mensos Gus Ipul Tegaskan Sekolah Rakyat Jadi Kunci Strategis Putus Kemiskinan Menuju Indonesia Makmur
JAKARTA, 24 AGUSTUS 2026 — Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan bahwa program Sekolah Rakyat merupakan langkah strategis pemerintah untuk memutus mata rantai kemiskinan dan mewujudkan keadilan s

Pemerintah Siapkan Bantuan 1.000 Rumah dan Swasta Bangun 500 Hunian Baru di Flores
KUPANG, 24 AGUSTUS 2026 — Pemerintah pusat melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) menyiapkan program bantuan pembangunan dan perbaikan 1.000 unit rumah bagi korban gempa di Pulau Flores, Nus

Kementerian PU Salurkan 12 Ribu Liter Air Bersih bagi Pengungsi Gempa di Kabupaten Sikka
SIKKA, 24 AGUSTUS 2026 — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mendistribusikan pasokan air bersih bagi warga terdampak bencana gempa bumi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada Minggu (23/8/2026). Distribusi
