Pemerintah Perkuat Komunikasi dengan Negara Tetangga soal Dampak Asap Karhutla
Budi Antoni
Editor: Budi Antoni
Diperbarui: 23 Agu 2026, 20.19

JAKARTA, 23 AGUSTUS 2026 — Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah telah menjalin komunikasi dengan negara tetangga terkait dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Komunikasi tersebut dilakukan baik secara informal maupun melalui jalur formal oleh Menteri Luar Negeri Sugiono.
"Kalau secara informal ada, secara formal memang sebagai negara tetangga kan juga melalui Pak Menlu tentu ada komunikasi. Makanya kita berusaha secepatnya untuk menangani karhutla ini," ujar Prasetyo di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Minggu (23/8/2026).
Prasetyo menuturkan komunikasi dengan negara tetangga tersebut berjalan seiring upaya pemerintah mempercepat penanganan karhutla di dalam negeri. Pemerintah, lanjutnya, terus memperkuat penanganan di lapangan melalui koordinasi lintas sektor, termasuk penambahan helikopter water bombing, alat pelindung diri (APD), dan pasukan tambahan.
Pembagian Tugas Antar-Kementerian
Pemerintah pusat juga membagi penugasan kepada sejumlah pejabat setingkat menteri untuk memberikan atensi khusus terhadap penanganan karhutla di masing-masing wilayah. "Jadi memang kita bagi tugas untuk atensi Kalimantan Barat, Tengah dan seterusnya. Memang kita atur seperti itu," ujarnya.
Pembagian tugas tersebut antara lain melibatkan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago serta Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak turut diberi tanggung jawab memberikan perhatian terhadap salah satu wilayah penanganan karhutla.
Prasetyo menegaskan pembagian wilayah tersebut bukan berarti para pejabat hanya bertanggung jawab pada daerah yang telah ditentukan. "Jangan juga diartikan tidak bertanggung jawab dengan daerah yang lain. Ini hanya membagi atensi supaya ada percepatan," katanya.
Belum Ada Rencana Satgas Khusus
Terkait wacana pembentukan satuan tugas (satgas) khusus penanganan karhutla, Prasetyo mengatakan pemerintah belum melihat kebutuhan untuk membentuk struktur baru. Ia menilai koordinasi lintas sektor yang berjalan saat ini sudah cukup kuat untuk menangani karhutla di lapangan.
"Saya kira belum, karena kemarin hasil dari lapangan penanganan yang itu juga kita koordinasi lintas sektor juga sudah cukup kuat," katanya. Ia menambahkan, penambahan personel dari tiga batalion juga telah dioperasikan untuk memperkuat penanganan karhutla di sejumlah titik.
Pemerintah, kata Prasetyo, terus mengerahkan berbagai unsur dan sumber daya agar karhutla dapat segera dikendalikan sehingga dampaknya tidak semakin meluas. "Sama-sama kita kroyok," ucap Prasetyo.
Sebelumnya, pemerintah telah meningkatkan upaya pengendalian dan penanganan karhutla di Kalimantan dan Sumatera dengan mengerahkan 12.880 personel untuk pemadaman, operasi modifikasi cuaca (OMC), dan pemantauan kualitas udara. Presiden Prabowo Subianto turut memimpin rapat penanganan karhutla di Kalimantan Tengah pada Sabtu (22/8), termasuk berkoordinasi dengan sejumlah menteri Kabinet Merah Putih.
Dalam rapat tersebut, Presiden mengarahkan penambahan bantuan alat dan fasilitas pendukung pemadaman, di antaranya empat helikopter water bombing, 100 unit pompa air, 2.000 unit APD, cangkul gepyok, sumur bor, dan selang air. Bantuan tersebut disiapkan untuk mempercepat pengendalian titik api sekaligus meminimalkan dampak asap bagi masyarakat di dalam maupun luar negeri.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Narasi Kepala BPKP Dikaitkan Perkara Lain Perlu Diuji dengan Fakta
JAKARTA, 8 SEPTEMBER 2026 — Munculnya narasi di media sosial yang mengaitkan Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Muhammad Yusuf Ateh dengan perkara yang berkaitan dengan Febrie Adriansyah, d

BMKG Pantau Erupsi Anak Krakatau 24 Jam, Warga Diimbau Tetap Waspada
JAKARTA, 6 SEPTEMBER 2026 — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus melakukan pemantauan selama 24 jam terhadap aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dan dampaknya terhadap atmosfer, penerban

YPPI Tegaskan Masyarakat Adat Miliki Peran Sangat Strategis dalam Pembangunan
JAKARTA, 5 SEPTEMBER 2026 — Masyarakat adat merupakan bagian penting dari keberagaman sekaligus masa depan bangsa Indonesia. Tidak hanya memiliki kekayaan budaya dan kearifan lokal, masyarakat adat juga mempuny
