Prancis Desak Rapat Darurat DK PBB Usai Tiga Personel UNIFIL Gugur di Lebanon
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 7 Sep 2026, 19.02

Moskow, Senin (30/3/2026) — Pemerintah Prancis mendesak digelarnya rapat darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) menyusul gugurnya tiga personel penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon selatan dalam serangkaian insiden yang terjadi dalam 24 jam terakhir.
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, menyatakan permintaan tersebut diajukan segera setelah insiden yang disebutnya sangat serius. “Karena insiden yang sangat serius melibatkan pasukan UNIFIL, saya telah meminta rapat darurat Dewan Keamanan PBB,” ujar Barrot melalui media sosial X.
Barrot juga mengecam keras serangan yang menewaskan para penjaga perdamaian tersebut serta menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Ia menegaskan perlunya penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap kronologi kejadian. “Kami mengutuk serangan ini dan menyerukan penyelidikan penuh untuk memastikan akuntabilitas,” katanya.
Selain itu, pemerintah Prancis mengutuk serangan terhadap kontingen militernya dalam misi UNIFIL di wilayah Naqoura, yang disebut sebagai pelanggaran keamanan dan “tindakan intimidasi” oleh Israel Defense Forces. Paris juga telah menyampaikan kecaman resmi kepada duta besar Israel di ibu kota Prancis.
Sebelumnya, UNIFIL melaporkan satu personel penjaga perdamaian asal Indonesia gugur pada Minggu malam (29/3) setelah sebuah proyektil menghantam pos mereka. Dalam insiden terpisah, dua personel lainnya tewas akibat serangan terhadap kendaraan patroli di wilayah Bani Hayyan dalam kurun waktu 24 jam.
UNIFIL merupakan misi penjaga perdamaian yang dibentuk oleh DK PBB pada 1978 untuk menjaga stabilitas di Lebanon selatan, wilayah yang kerap menjadi titik konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah. Pada 2006, mandat UNIFIL diperkuat pascakonflik Israel-Lebanon untuk memantau penghentian permusuhan dan mendukung keamanan di sepanjang perbatasan.
Rangkaian serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian ini menandai peningkatan risiko keamanan di wilayah operasi UNIFIL. Insiden tersebut berpotensi memengaruhi efektivitas misi serta meningkatkan tekanan internasional terhadap pihak-pihak yang terlibat konflik untuk menahan diri.
Bagi masyarakat internasional, khususnya negara kontributor pasukan seperti Indonesia dan Prancis, kejadian ini memicu kekhawatiran terhadap keselamatan personel di lapangan serta mendorong evaluasi terhadap mekanisme perlindungan pasukan penjaga perdamaian.
Sebagai tindak lanjut, Prancis mendorong DK PBB segera menggelar rapat darurat guna membahas langkah konkret, termasuk investigasi independen dan penguatan perlindungan bagi pasukan UNIFIL, serta mendorong semua pihak kembali ke jalur diplomasi untuk meredakan eskalasi konflik di Lebanon selatan.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Mensos Gus Ipul Tegaskan Sekolah Rakyat Jadi Kunci Strategis Putus Kemiskinan Menuju Indonesia Makmur
JAKARTA, 24 AGUSTUS 2026 — Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan bahwa program Sekolah Rakyat merupakan langkah strategis pemerintah untuk memutus mata rantai kemiskinan dan mewujudkan keadilan s

Pemerintah Siapkan Bantuan 1.000 Rumah dan Swasta Bangun 500 Hunian Baru di Flores
KUPANG, 24 AGUSTUS 2026 — Pemerintah pusat melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) menyiapkan program bantuan pembangunan dan perbaikan 1.000 unit rumah bagi korban gempa di Pulau Flores, Nus

Kementerian PU Salurkan 12 Ribu Liter Air Bersih bagi Pengungsi Gempa di Kabupaten Sikka
SIKKA, 24 AGUSTUS 2026 — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mendistribusikan pasokan air bersih bagi warga terdampak bencana gempa bumi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada Minggu (23/8/2026). Distribusi
