Tiga Personel TNI Terluka dalam Ledakan di Fasilitas PBB Lebanon, UNIFIL Selidiki Sumber Serangan
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 12 Sep 2026, 13.29

JAKARTA – Tiga personel Indonesia yang tergabung dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon dilaporkan terluka akibat ledakan di fasilitas PBB dekat El Adeisse, Lebanon selatan, Jumat (3/4) sore waktu setempat. Dua di antaranya mengalami luka serius dan telah dievakuasi ke rumah sakit, sementara penyebab ledakan masih dalam penyelidikan.
Juru Bicara UNIFIL Kandice Ardiel menyatakan insiden tersebut terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik di wilayah operasi pasukan penjaga perdamaian.
“Sore ini, sebuah ledakan di fasilitas PBB di dekat El Adeisse melukai tiga penjaga perdamaian, dua di antaranya mengalami luka serius,” ujar Ardiel dalam pernyataan resmi yang disampaikan melalui Pusat Informasi PBB di Indonesia (UNIC).
Ardiel menegaskan pihaknya belum dapat memastikan asal-usul ledakan tersebut.
“Kami belum mengetahui asal-usul ledakan tersebut,” katanya, seraya menambahkan bahwa seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis.
Ia juga mengingatkan seluruh pihak yang terlibat konflik untuk menghormati keberadaan pasukan penjaga perdamaian.
UNIFIL, kata dia, meminta agar “semua pihak memastikan keselamatan personel penjaga perdamaian dan menghindari aktivitas tempur di sekitar area operasi.”
Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah tiga prajurit TNI gugur dalam dua serangan terpisah di Lebanon selatan. Pada 29 Maret 2026, Praka Farizal Rhomadhon tewas akibat tembakan artileri di sekitar Adchit Al Qusayr. Sehari kemudian, Kapten Inf. Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan gugur dalam serangan terhadap konvoi yang mereka kawal di dekat Bani Hayyan.
Rangkaian insiden tersebut terjadi di tengah meningkatnya konflik antara militer Israel dan kelompok Hizbullah di wilayah perbatasan Lebanon selatan. Sejak awal Maret 2026, intensitas serangan meningkat, termasuk pelanggaran wilayah udara dan baku tembak lintas perbatasan, yang turut berdampak pada keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB.
Dari sisi dampak, situasi ini meningkatkan risiko keselamatan bagi personel Indonesia yang bertugas dalam misi internasional serta berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan. Selain itu, eskalasi konflik dapat mengganggu mandat UNIFIL dalam menjaga gencatan senjata dan stabilitas di Lebanon selatan.
Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa memastikan bahwa penyelidikan atas serangkaian insiden yang melibatkan pasukan penjaga perdamaian, termasuk yang menewaskan tiga prajurit Indonesia, masih berlangsung. PBB menyatakan hasil investigasi akan diumumkan dalam waktu dekat sebagai dasar penentuan tanggung jawab dan langkah lanjutan untuk menjamin keamanan personel di lapangan.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Mensos Gus Ipul Tegaskan Sekolah Rakyat Jadi Kunci Strategis Putus Kemiskinan Menuju Indonesia Makmur
JAKARTA, 24 AGUSTUS 2026 — Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan bahwa program Sekolah Rakyat merupakan langkah strategis pemerintah untuk memutus mata rantai kemiskinan dan mewujudkan keadilan s

Pemerintah Siapkan Bantuan 1.000 Rumah dan Swasta Bangun 500 Hunian Baru di Flores
KUPANG, 24 AGUSTUS 2026 — Pemerintah pusat melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) menyiapkan program bantuan pembangunan dan perbaikan 1.000 unit rumah bagi korban gempa di Pulau Flores, Nus

Kementerian PU Salurkan 12 Ribu Liter Air Bersih bagi Pengungsi Gempa di Kabupaten Sikka
SIKKA, 24 AGUSTUS 2026 — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mendistribusikan pasokan air bersih bagi warga terdampak bencana gempa bumi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada Minggu (23/8/2026). Distribusi
